Wednesday, February 29, 2012

Mitos-mitos yang Salah Seputar Obat, Obat Tradisional, Kosmetika dan Bahan Tambahan Pangan Part 1

Artikel ini tercipta dari keprihatinanku akan masyarakat Indonesia yg gampang sekali terjebak isu-isu dan banyaknya pemahaman yang salah terhadap obat, obat tradisional, kosmetik, dan bahan tambahan makanan.

Mengenai sumber, maaf aku ga bisa memberikan, kebanyakan soalnya klo disebut (berbagai macam textbook dan jurnal, yakin dech pasti pada males baca buku2 itu). Yang jelas, apa yang aku paparkan di sini adalah semua pengetahuan dan pengalaman yang kumiliki sebagai seorang pharmacist (apoteker). Oke, langsung aza ya!


PEMAHAMAN YG SALAH, NO.1

BAHAN YANG INI BENAR-BENAR AMAN, YANG ITU BENAR-BENAR BERBAHAYA

Di dunia ini, TIDAK ADA BAHAN YANG BENAR-BENAR AMAN. SEMUA BAHAN ITU SEBENARNYA BISA BERBAHAYA!! 

Paracelsus
Lho, gak percaya?? Paracelsus, sang bapak toksikologi pernah berkata, “All things are poison, and nothing is without poison; only the dose permits something not to be poisonous” Yang kalau dibahasa Indonesiakan artinya ”Semua bahan adalah racun, tidak ada yang tak beracun. hanya dosisnyalah yang membuat suatu bahan tidak bersifat racun". Perkataan ini, saking terkenalnya merupakan menu wajib dalam pendahuluan Ilmu Toksikologi (Ilmu tentang racun).   

Masih ga percaya?? Oke dech, aku kasi contoh. Kita tiap hari makan nasi dan pasti percaya klo yang namanya nasi itu 100% aman. Tapi klo ada orang yg makan 100 kg nasi dalam sehari, bisa2 orang itu mati, minimal masuk rumah sakit. Makanya, ada kasus orang meninggal gara2 kebanyakan makan. Ga cuma nasi, bahan2 lain yg kita pikir aman seperti air dan garam juga akan membahayakan kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah yg sangat berlebihan. (Batin pembaca dalam hati, "Duh, klo cuman kayak gitu sich, kite2 juga tau kali! Klo makan sesuatu secara berlebihan ya udah pasti efeknya ga baiklah! Penulis artikelnya gimana sich". He he he)

Ada banyak hal yang menentukan sifat toksik (racun) dari suatu bahan. Yang pertama dan terpenting adalah DOSIS (JUMLAH YANG DIGUNAKAN). Makanya, 1 biji parasetamol 500 mg klo diminum bisa mengobati sakit kepala, tapi kalo diminum 40 biji bisa buat orang hilang nyawa.


Obat dapat membahayakan jika digunakan dalam jumlah yang berlebihan
Yang kedua adalah RUTE PENGGUNAAN
Bahan-bahan yang hanya dioleskan di kulit biasanya risiko untuk menimbulkan keracunan lebih rendah daripada yang langsung diminum. Makanya kosmetika biasanya digolongkan sebagai produk low risk (risiko rendah) sehingga pengaturannya kurang ketat dibandingkan dengan obat. Obat-obat topikal, misalnya antibiotik yang hanya dioleskan di kulit biasanya memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan dengan antibiotik yang diminum.

Yang ketiga adalah DURASI (LAMANYA PEMAKAIAN).
Efek berbahaya biasanya langsung timbul pada penggunaan dengan dosis besar. Suatu bahan yang digunakan dalam dosis kecil, klo dipakai sekali-sekali tidak menimbulkan efek yang membahayakan kesehatan. Tetapi bila digunakan berulangkali dalam jangka waktu yang lama mungkin saja bisa menyebabkan efek yang berbahaya.

Suatu bahan bisa berbahaya atau aman untuk digunakan, semuanya tergantung pada faktor-faktor yang sudah aku sebutkan di atas. Nasi dikatakan aman, karena jumlah untuk menyebabkan efek yang berbahaya bagi kesehatan berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan jumlah yang biasa dikonsumsi.Sementara itu, racun seperti bisa ular dalam jumlah yang sangat sedikit sudah dapat menyebabkan kematian sehingga dikatakan sangat berbahaya. Jika dosis bahan tersebut tepat, rute penggunaannya tepat, durasi penggunaannya juga tepat, niscaya bahan-bahan tersebut dapat digunakan tanpa membahayakan kesehatan.


Ribut-ribut kasus Indomie di Taiwan yang menghebohkan
Sayangnya kadang-kadang masyarakat tidak mempertimbangkan ini saat berhadapan dengan bahan-bahan seperti bahan tambahan pangan. Ribut-ribut mengenai Aspartam dan pengawet Nipagin dalam Indomie beberapa waktu yang lalu adalah contohnya. Oke dech, aspartam yang diberikan pada hewan memang pada beberapa percobaan benar-benar dapat menimbulkan tumor pada otak (pada beberapa percobaan lain hal ini tidak terbukti). Tapi itu dengan menggunakan dosis besar, disuntikkan, dan dalam jangka waktu yang lama. Pada kenyataannya, hampir semua bahan-bahan pada pemberian dosis besar dan jangka waktu yang lama akan memberikan efek berbahaya bagi kesehatan.

Dosis yang digunakan pada manusia sangat kecil dan lembaga yang berwenang seperti FDA, TGA dan Badan POM telah menghitung batas kadar maksimal yang diperbolehkan bagi bahan-bahan yang kiranya dalam dosis tersebut, bahan tersebut tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan (Cara ngitungnya ga usah  diterangin disini, nanti jadi pada puyeng..He he he). Nipagin alias methylparaben alias methyl p-hidroksibenzoat merupakan bahan yang termasuk kategori GRAS (Generally Recognize As Safe alias secara umum aman) di FDA, dan keberadaannya dalam produk pangan diperbolehkan pada kadar tertentu secara Internasional. Oleh karena itu, masyarakat ga perlu buru-buru khawatir dengan adanya nipagin dalam produk mie. Kecuali kalau kadarnya dalam makanan tersebut melewati batas yang diizinkan…….

LHA, TERUS KENAPA PENGAWET NIPAGIN DALAM MAKANAN DILARANG DI TAIWAN, TAPI DI INDONESIA TIDAK?
Ini juga aku ga tau. Tapi meskipun ada standar yang berlaku secara internasional, beberapa Negara dapat membuat regulasi yang berbeda dengan Negara lain karena keadaan tertentu di Negara tersebut. Contohnya:
  1. Di China, penambahan obat-obatan modern ke dalam obat tradisionalnya diperbolehkan. Tapi di Indonesia hal ini dilarang. Knp? Hal ini karena masyarakat kita terbiasa meminum jamu sebagai pemeliharaan kesehatan alias rutin diminum tiap hari dalam jangka waktu yang lama, sementara obat-obatan yg sering ditambahkan seperti antalgin dan deksametason berbahaya bagi kesehatan bila digunakan secara terus menerus.
  2. Di Thailand, batas kadar Fluoride yg diizinkan adalah 0,11 % sementara Negara lain 0,15%. Knp? Hal ini karena air di Thailand cenderung memiliki kadar Fluoride yg tinggi sehingga batas penggunaan fluoride dalam pasta gigi di Thailand harus lebih rendah.
  3. Di Indonesia, camphor (kamfer) dibatasi kadarnya dan penggunaannya dilarang dalam bedak badan untuk anak umur <3 tahun, di Eropa dan Amerika Serikat tidak. Knp? Hal ini karena di Indonesia ada kebiasaan membedaki bayi sehabis mandi (sampai mukanya juga). Padahal camphor dapat menimbulkan kejang pada bayi, apalagi kalau sampai terhirup (kebiasaan ini ga ada tuch di Eropa sana, makanya mereka ga membatasi penggunaan camphor).
Pesan penulis:
Ga usah panik atau membesar-besarkan masalah klo ada isu-isu tentang bahan berbahaya, karena keamanan maupun keberbahayaan suatu zat tergantung dosis, rute, dan durasi penggunaannya. Yang penting tidak berlebihan dalam memakan, meminum ataupun menggunakan sesuatu. 

Artikel ini dibuat semata-mata untuk sharing informasi.

Nantikan kelanjutannya di Part 2 ya!!

Reactions:

0 comments:

Post a Comment