Sunday, September 2, 2012

Mitos-mitos yang Salah Seputar Obat, Obat Tradisional, Kosmetika dan Bahan Tambahan Pangan Part 2

Artikel part 2 ini baru kubuat sekitar 7 bulan setelah part 1nya. Lama betul ya (berkeringat dingin).  Back to the topic, hal yang kutulis kali ini mengangkat tentang masalah yang sebetulnya dari dulu sangat ingin kubahas. Suatu kesalah kaprahan yang sering sekali terjadi di masyarakat sehingga membuatku prihatin. Ceilee bahasanya. Prihatin. Emangnya Pak SBY pake acara prihatin segala. Apa sajakah itu?

  • Kosmetika Tanpa Bahan Kimia
Kemarin, saat berbelanja di Food Hall Grand Indonesia, tak sengaja kumendengar seorang bapak bertanya pada pramuniaga disana, "Mbak, letak samponya dimana ya? Saya lagi cari sampo, tapi yg ga ada bahan kimianya". Terus terang, setiap ada konsumen yang mencari produk obat tradisional atau kosmetika tanpa bahan kimia atau mendengar iklan suatu produsen yang mengklaim produknya tanpa bahan kimia, aku selalu ingin headdesking dan facepalming. Kenapa bisa begitu? Ayo baca penjelasanku berikut ini!

Sejujurnya, produk kosmetika ataupun obat tradisional bisa dibilang tidak ada yang bebas dari bahan kimia! Sebelum latah menggunakan istilah tanpa bahan kimia, mari kita cek apa definisinya.  Bahan kimia adalah semua materi dengan komposisi kimia tertentu dan sifat yang tetap. Air, vitamin, protein, karbohidrat, lemak, semuanya merupakan bahan kimia!! Jadi jangan memiliki kesan bahwa semua bahan kimia itu buruk bagi kesehatan kita. Memangnya ada manusia yang bisa hidup tanpa air? 

Apa ada yang berani bilang jika air, yang memiliki rumus kimia  H2O ini, bukan bahan kimia?? 
Sepertinya sampo yang dicari bapak-bapak di Food Hall Grand Indonesia kemarin itu sebenarnya tak akan ditemukan. Secara yang namanya sampo itu komposisinya pasti mengandung air. Dari penjelasan di atas, sudah jelas bahwa sampo-sampo yang dijual itu tidak ada yang bebas bahan kimia.

Istilah yang seharusnya dipakai oleh bapak itu adalah bahan sintetik vs bahan alami. Memang ada kosmetika yang komposisinya hanya terdiri dari bahan-bahan alami seperti ekstrak-ekstrak tumbuhan tanpa menggunakan bahan kimia sintetis seperti methylparaben. Beberapa bahan kimia sintetis yang digunakan dalam kosmetika memang bisa menimbulkan berbagai efek yang tidak diinginkan seperti alergi, pusing, kulit menjadi kering, sampai isu dapat menimbulkan kanker. Kebenaran soal itu nanti akan kubahas secara terpisah. Yang jelas, terdapat kesan bahwa yang namanya bahan alami pasti lebih aman dibandingkan bahan sintetik. Dalam sebagian besar hal, ini memang benar. Tapi bukan berarti dengan menggunakan produk yang semuanya terdiri dari bahan alami akan terbebas dari semua risiko lho! Dulu aku pernah membaca kalau yang namanya jeruk nipis dapat digunakan untuk mengecilkan pori-pori kulit dan menghilangkan jerawat. Oleh karena itu, aku mencoba mempraktekkannya dengan mengoleskan air perasan jeruk nipis ke wajahku. Bukannya menjadi bagus, kulitku malah gatal-gatal dan perih karena alergi. Begitu pula dengan sepupuku. Dia membaca kalau bawang putih bisa digunakan untuk menghilangkan jerawat. Kulit wajahnya malah jadi kemerahan karena dia tempeli dengan tumbukan bawang putih. Intinya, segala sesuatu pasti ada risikonya.
  • Obat Tradisional Tanpa Bahan Kimia
Mirip dengan kosmetika tanpa bahan kimia seperti yang telah kujelaskan di atas, banyak sekali produsen obat tradisional yang mengklaim bahwa produknya dibuat tanpa bahan kimia. Halo? Yang bener? Obat tradisional biasanya terbuat dari ekstrak maupun simplisia tumbuhan, hewan atau mineral. Yang namanya ekstrak ataupun simplisia itu terdiri dari ratusan senyawa kimia sehingga sebenarnya tidak ada obat tradisional yang bebas bahan kimia. 

Ekstrak kunyit, salah satu bahan utama
 obat tradisional di Indonesia
Ekstrak kunyit memiliki kandungan utama bernama
curcumin, suatu bahan kimia dengan rumus molekul
seperti di atas













Istilah yang benar adalah obat tradisional tanpa Bahan Kimia Obat (BKO). Di Indonesia, obat tradisional memang dilarang mengandung BKO oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hal ini karena masyarakat Indonesia biasanya menggunakan obat tradisional untuk memelihara kesehatan badan sehingga diminum teratur setiap hari. Sementara itu, sebagian besar obat yang suka dicampurkan dalam obat tradisional itu tidak boleh digunakan terus menerus. Contohnya parasetamol. Jika digunakan dalam jangka panjang dan dalam dosis besar setiap hari, obat ini dapat menyebabkan gangguan hati. Tetapi parasetamol memiliki risiko kesehatan yang sangat kecil jika digunakan dalam jangka waktu yang pendek untuk menghilangkan sakit kepala atau menurunkan demam. Selain itu, bisa terjadi interaksi antara bahan-bahan dalam obat tradisional dengan BKO sehingga efeknya tidak dapat diprediksi.

Jadi jelas ya, jika belum ada kosmetika dan obat tradisional yang bebas dari bahan kimia! Sekian dulu untuk hari ini. Nanti kita sambung lagi di Part 3! Semoga informasi ini bermanfaat.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment