Sunday, January 13, 2013

Urban Lifestyle. How important is it?

"Asyik ya jadi kamu. Tinggal di kos bagus. Punya smartphone canggih, baju dan sepatu yang bagus-bagus. Punya banyak kartu jadi gampang kalau mau beli apa-apa. Sering pergi fitness, ke karaoke, ke restoran, ke bioskop. Urban lifestyle itu tampaknya menyenangkan. Aq juga mau nieh kerja di Jakarta", pungkas salah satu teman dari temanku yang dititipkan di kosku karena sedang mengikuti wawancara kerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Aku tertegun. "Is that how people view me?"

Tetiba aku teringat dengan kenangan absurd tentang salah satu mantan teman baikku saat SMP. Iya. Mantan. Meskipun aku selalu beranggapan jika memang teman baik selamanya akan menjadi teman baik namun ternyata ada juga kasus dimana pertemanan yang baikpun tidak dapat bertahan. :) Ah.. Tapi aku tidak dapat menyalahkannya. Masa remaja adalah masa dimana jiwa kita paling labil. Perasaan ingin diterima di lingkungan pertemanan merupakan salah satu isu yang paling penting. Well, in Junior High School I was one of those unpopular, hipster, freaky girl. I was different (but I'm proud of it!). Jadi ketika mantan temanku itu lebih memilih untuk bergaul dengan gadis-gadis lain yang populer, aku maklum. Sayangnya, ia terjebak dalam situasi yang persis seperti quote dari Dave Ramsey. "We buy things we don't need with money we don't have to impress people we don't like". Bisa menebak kemana arah semua ini? Ya. Mantan temanku itu tertangkap menggelapkan uang kas kelas yang digunakannya untuk membeli berbagai macam barang untuk membuat orang terkesan. Kabar terakhir yang kudengar dia bekerja dengan menukar kehormatannya sebagai wanita demi bisa menjalani gaya hidup yang diinginkannya. Dunia nyata memang kejam kawan :)

Kupandang keseluruhan isi kamarku, lukisan Dewi Saraswati, deretan buku, tumpukan baju, aksesoris, laptop. That's not all those things that define me, my dear friend. And I never buy things to impress other people. Biasanya malah aku beli barang untuk meningkatkan perekonomian bangsa dan negara (yang membuat kebanyakan barangku adalah buatan dalam negeri. Termakan kampanye gerakan 100% cinta Indonesia). Kupandang teman dari temanku itu dan tersenyum. "Entah itu di kota besar, kota kecil, maupun di desa, bukan gaya hidup ataupun benda yang kau miliki yang membuatmu bahagia. Kebahagiaan itu tergantung dari caramu memandang dirimu dan hal-hal yang kau jalani. And I am happy with my life. Very happy".

Reactions:

0 comments:

Post a Comment