Wednesday, April 3, 2013

Isu Larangan Mengkonsumsi Obat dan Makanan dengan Merek Tertentu

Beberapa tahun yang lalu saat masih menjadi mahasiswa semester awal di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, aku menerima email dari temanku tentang dilarangnya beberapa obat dan makanan dengan merek tertentu oleh Badan POM. Alasan pelarangannya adalah karena obat dan makanan merek tersebut mengandung bahan melebihi batas amannya (biasanya yang jadi korban black campaign macam ini adalah Paramex, Extra Joss dan merek terkenal lainnya). Wah, berhubung masih baru dan culun, jadi ikut-ikutan hebohlah. Hampir saja aku ikut-ikutan menyebarkan email tersebut ke sahabat-sahabat yang lain. Apalagi aku menerima email ini dari teman yang cukup terpercaya. Tapi hati kecilku tergelitik tentang kebenaran isu ini. Maka aku checklah kebenarannya ke Balai POM di Yogyakarta yang ternyata membuktikan bahwa isu ini cuma isapan jempol belaka.

Hal seperti ini sudah terjadi berkali-kali. Isu-isu tidak bertanggungjawab seperti ini sudah berhembus sejak bertahun-tahun yang lalu dan tampaknya masyarakat hampir tidak pernah belajar dari pengalaman. Zaman sekarang informasi dapat begitu cepat menyebar dan berita sampai ke khalayak luas dalam hitungan detik (thanks to the internet). Sayangnya, perilaku masyarakat kita (dan dunia) dalam mengolah informasi ini masih primitif. Bukannya mengecek kebenarannya, biasanya mereka langsung saja mempercayai dan meneruskan berita tersebut. Mungkin mereka belum paham bahwa informasi yang beredar di internet, broadcast message, email, atau yang lainnya itu tidak selalu benar. Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu. Isu larangan menkonsumsi beberapa obat dan makanan dengan merek tertentu oleh Badan POM kembali marak melalui broadcast message di blackberry. Badan POMpun akhirnya turun tangan untuk membantah isu tersebut melalui klarifikasi yang diposting di situs resmi Badan POM. Pemberitahuan tersebut dapat dilihat disini.

Pesanku, jangan heboh dulu jika menerima suatu isu atau informasi. Pastikan selalu mengecek kebenarannya ke lembaga resmi yang berwenang. Semoga informasi ini bermanfaat ^0*.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment