Sunday, May 26, 2013

Kontroversi, Antara Mencari Sensasi dan Menuai Rezeki

Sebenarnya aku prihatin dengan fenomena yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Fenomena mudah lupa dan tak tahu malu. Sudah berapa kali fenomena seperti ini terjadi? Kontroversi yang terjadi di negeri ini acap kali membuat pihak-pihak yang terlibat mendadak tenar dan dicari-cari. Dan ujung-ujungnya menjadi ladang untuk menuai rezeki. 

Beberapa pekan terakhir ini tiada hari tanpa berita Ahmad Fathanah, tersangka kasus dugaan korupsi dan pencucian uang kuota daging sapi yang menyeret beberapa nama perempuan cantik dalam beritanya. Paparan pemberitaan di media-media nasional ini membuat wanita-wanita Fathanah mendadak terkenal. Kisah mereka rupanya menarik perhatian sejumlah rumah produksi dan produser sehingga hanya dalam hitungan hari, Septi, istri ketiga Ahmad Fathanah, kebanjiran tawaran untuk main sinetron, model, termasuk menyanyi. Sementara Vitalia Shesha, model majalah pria dewasa yang menerima pemberian berupa mobil dan jam tangan mewah, selain ditawari sebagai model iklan juga sebagai penyanyi. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala.


Masih segar dalam ingatan ketika Manohara terkenal tahun 2009 gara-gara mengaku dianiaya suaminya yang keturunan Sultan Kelantan, Malaysia. Sejak saat itu popularitas Manohara meroket, bahkan kisahnya diangkat menjadi salah satu sinetron di Indonesia. Tetapi karena memang tidak punya bakat, ketenarannya tak bertahan lama. Lalu ada kasus penyanyi dangdut yang sengaja mengumbar foto pernikahannya dengan salah satu pelawak di Indonesia. Kontroversipun terjadi. Media massa gencar memberitakan penyanyi tersebut. Ujung-ujungnya kebanjiran job, padahal ternyata foto tersebut palsu dan memang sengaja digunakan untuk mendongkrak popularitas. Sekarang, Arya Wiguna yang mendadak beken karena ancaman bombastisnya (Demi Tuhan!!) pada Eyang Subur pun sedang mempersiapkan dirinya menjadi penyanyi. Lagi-lagi aku cuma bisa geleng-geleng kepala.


Sah-sah saja para produser itu menawari mereka pekerjaan karena memang mereka harus pintar menangkap peluang. Banyaknya tawaran bernyanyi dan sinetron yang dialami oleh orang-orang yang tersangkut kasus kontroversial ini tak lepas dari peran media dalam mengangkat popularitas mereka. Jika orang itu sudah terkenal, masyarakat cenderung ingin tahu tentang orang itu, tidak peduli terkenalnya karena sesuatu yang baik atau buruk. Kita tidak dapat melarang orang untuk memanfaatkan ketenaran lewat kebaikan atau keburukan. Sad but true, di dunia ini hukum pasar yang berlaku.


Yang aku khawatirkan adalah ketika orang-orang menjadi terkenal karena tindakan tidak terpuji. Alhasil, orang itu tidak memberikan pelajaran yang baik kepada masyarakat. Bahkan dapat mendorong orang-orang yang ingin terkenal dan mendapatkan pekerjaan di dunia hiburan lewat jalur cepat dengan cara mencari sensasi. Sengaja meyebar foto-foto yang tak pantas misalnya. Jangan-jangan nantinya mencari sensasi akan menjadi budaya bangsa ini.


Salah satu misteri terbesar dalam fenomena ini adalah betapa cepat pudarnya sanksi sosial di masyarakat bagi mereka yang pernah tersandung kontroversi akibat perbuatan tak terpuji. Mereka mudah diterima kembali dalam dunia kepopuleran dan keartisan. Artis yang terlibat skandal seksual, narkoba, kekerasan, dan lain-lain dengan gampangnya muncul kembali di layar kaca. Apakah ini memang tipikal orang Indonesia? Tidakkah ini justru menjadi contoh yang tidak baik bagi generasi muda kita? Buat saja sensasi dengan perbuatan tak terpuji. Jadi terkenal, menuai rezeki. Kalaupun ada sanksi sosial tidak akan seberapa. Lama-lama terbentuk masyarakat Indonesia yang penuh drama. Semoga ini hanya kekhawatiranku belaka. 

Reactions:

0 comments:

Post a Comment