Sunday, July 28, 2013

Mendeteksi Kebohongan dalam Iklan dan Klaim Kosmetika

Belakangan ini banyak sekali iklan kosmetika yang mempromosikan seolah-olah produknya adalah obat. Dengan berbagai klaim bombastis dan janji-janji yang terlalu indah untuk jadi kenyataan, iklan tersebut menyesatkan konsumen agar berbondong-bondong membeli produknya . *geleng-geleng kepala*. Sungguh prihatin. Sebenarnya sah-sah saja jika produsen atau distributor membuat suatu klaim tentang manfaat produknya, namanya juga orang jualan. Tapi sangatlah tidak bijaksana jika manfaat yang diiklankan tersebut jauh dari kenyataannya. Itu namanya pembohongan publik!

Sebelum membahas soal kebohongan-kebohongan di atas, ada baiknya kita berkenalan dulu dengan yang namanya klaim. Menurut Peraturan Kepala Badan POM Tahun 2010 tentang Persyaratan Teknis Kosmetika, klaim kosmetika adalah pernyataan pada penandaan berupa informasi mengenai manfaat, keamanan dan/atau pernyataan lain. Klaim ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

  • Klaim Kemanfaatan
Contoh klaim kemanfaatan antara lain: membantu mencerahkan kulit, mewangikan badan, melembutkan rambut, dll. Intinya informasi tentang manfaat yang bisa didapatkan konsumen jika memakai kosmetika tersebut.
  • Klaim Keamanan
Contoh klaim keamanan antara lain: tidak pedih di mata (biasanya pada produk sampo bayi), hypoallergenic (kurang menimbulkan alergi), dll. Intinya informasi tentang keamanan kosmetika yang dapat menarik konsumen agar lebih memilih produk tersebut dibandingkan kompetitornya. Ada beberapa klaim yang dimaksudkan produsen sebagai klaim keamanan, tetapi salah kaprah dan menyesatkan konsumen. Contohnya adalah klaim "bebas merkuri". Hal ini sebenarnya tidak dapat digunakan sebagai klaim keamanan karena semua kosmetika memang tidak boleh mengandung merkuri. Jadi klaim ini menyesatkan, seolah-olah kosmetika tersebut lebih aman padahal sebenarnya tidak. Demikian pula dengan klaim "tidak mengandung pengawet" atau "tidak mengandung paraben". Pengawet dan paraben merupakan bahan yang diperbolehkan dalam kosmetika. Tidak ada perbedaan keamanan yang bermakna antara kosmetika yang mengandung ataupun tidak mengandung pengawet. 

Oke. Setelah berkenalan dengan jenis-jenis klaim di atas, mari kita membedakan klaim suatu produk. Apakah dia mengklaim sebagai kosmetika atau mengklaim suatu obat? Ada 5 kriteria yang digunakan regulator untuk membedakan apakah produk tersebut termasuk kosmetika dan apakah klaimnya termasuk klaim kosmetika seperti bagan di bawah ini:




Bagian yang harus diperhatikan ketika kita menilai klaim suatu kosmetika adalah bagian 3, 4 dan 5 di atas. Jika klaim yang dipromosikan melalui iklan di luar ketiga hal tersebut (di luar fungsi kosmetika, peruntukan untuk mengobati atau mencegah penyakit, serta klaim dapat mengubah fungsi fisiologi tubuh), maka bisa dipastikan klaim dan iklan itu bohong.

Berikut adalah suatu contoh iklan kosmetika di facebook yang menurutku sangat tidak etis, tidak masuk akal, bohong dan menyesatkan:




Dari contoh kasus di atas, ada beberapa hal yang harus dibahas:

  • NA itu artinya bukan notifikasi Asia, itu hanya kode dari Badan POM yang artinya produk tersebut terdaftar di Indonesia. Belum ada kejadian suatu produk yang terdaftar di suatu negara berarti otomatis terdaftar juga di negara atau kawasan lain (kecuali eropa karena adanya Europe Union).
  • Dari ke-12 klaim yang dicantumkan diatas, hanya beberapa yang merupakan klaim kosmetika. Sisanya merupakan klaim pengobatan atau mengubah fungsi fisiologi tubuh manusia yang tidak dapat dilakukan oleh kosmetika.
  • Produk di atas merupakan kosmetika yang terdaftar sebagai feminine hygiene, alias kosmetika untuk menjaga kebersihan daerah kewanitaan. Adalah suatu kebohongan jika sediaan ini dapat mengubah fungsi fisiologi (seperti melancarkan sekresi vagina), membunuh bakteri patogen, apalagi mencegah dan mengatasi kista. Hanya produk yang terdaftar sebagai obat yang boleh menggunakan klaim-klaim tersebut.
Salah satu perbedaan besar antara obat dan kosmetika adalah klaim obat harus dibuktikan dengan berbagai macam penelitian dan uji klinis sementara proses pembuktian klaim pada kosmetika relatif lebih mudah. Jadi jika kalian melihat suatu kosmetika diiklankan memiliki manfaat seperti obat, dapat dipastikan bahwa iklan tersebut pasti bohong. Berhati-hatilah dalam membeli produk dan jadilah konsumen yang pintar. 

As usual, semoga artikel ini bermanfaat \(^o^)/.   

Reactions:

0 comments:

Post a Comment