Tuesday, August 6, 2013

Resistensi Antibiotik

Sebenarnya isu ini sudah terlalu sering diwacanakan. Tapi berhubung masih menjadi salah satu isu kesehatan utama di dunia dan masih banyak masyarakat yang tidak sadar bahwa dirinya punya andil terhadap masalah ini, tidak ada salahnya hal ini ditulis kembali.

Sebelum antibiotik ditemukan dan digunakan untuk pengobatan (sekitar tahun 1940-an. Ternyata kita belum lama menikmati manfaat penggunaan antibiotik ini), angka kematian pada orang yang menderita penyakit infeksi sangat tinggi. Dengan ditemukannya antibiotik, kemampuan untuk memerangi penyakit infeksi meningkat secara dramatis. Meskipun demikian, beberapa jenis bakteri kemudian menjadi resisten/kebal terhadap antibiotik. Bisa kalian bayangkan apa yang akan terjadi seandainya obat yang kita miliki tidak sanggup lagi membunuh bakteri patogen penyebab penyakit?

Resistensi antibiotik terjadi ketika obat tidak lagi efektif dalam membunuh atau menghambat perkembangan mikroba. Penyebab utama dari hal ini adalah penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat. Hayo, ngaku! Berapa banyak dari kalian yang suka memakai antibiotik untuk mengobati infeksi karena virus? :D. Hal ini ternyata adalah salah satu penyebabnya lho.

Bakteri. Source:amazine.co
Bakteri dapat diibaratkan seperti manusia. Ada yang lemah, yang biasa-biasa saja, dan sebagian kecil adalah yang kuat dan resisten. Hari-hari awal memakai antibiotik biasanya pasien langsung merasa penyakitnya membaik. Hal ini karena sebagian besar bakteri telah mati sehingga kita merasa sudah sembuh. Meskipun demikian, biasanya bakteri yang kuat dan resisten masih ada dalam tubuh kita. Jika antibiotik digunakan secara tidak tepat (misalnya jika berhenti diminum sebelum jumlah yang disarankan habis), bakteri yang lemah dan yang biasa-biasa saja telah mati sementara bakteri yang kuat masih bertahan dan justru berkembangbiak. Bakteri yang kuat dan resisten ini dapat keluar dari tubuh kita, bertahan di lingkungan dan kemudian menginfeksi orang lain. Penggunaan antibiotik yang berlebihan akan mempercepat munculnya bakteri-bakteri resisten ini.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan tidak hanya terjadi pada manusia. Para peternak juga banyak mencampurkan antibiotik dalam pakan agar hewan ternaknya cepat gemuk dan untuk mencegah infeksi pada ternak. Antibiotik juga disemprotkan ke tumbuh-tumbuhan untuk mencegah dan mengatasi penyakit karena mikroba. Hal-hal ini memicu berkembangnya bakteri resisten yang dapat berpindah ke manusia melalui daging, susu, buah atau air minum, sehingga semakin menambah masalah yang kita hadapi.

Masalah lainnya adalah kemampuan bakteri untuk terus menerus beradaptasi terhadap lingkungannya dan mengambil karakteristik dari bakteri lainnya. Ada satu percobaan yang pernah aku praktekkan sewaktu kuliah. Terdapat 2 jenis bakteri dengan karakteristik yang berbeda, yang satu resisten terhadap penisilin sementara yang satunya sensitif terhadap penisilin. Bakteri yang resisten dengan penisilin kita bunuh dengan pemanasan lalu kita campurkan dengan bakteri yang sensitif. Guess what? Yup. Bakteri-bakteri yang tadinya sensitif itu berubah menjadi resisten terhadap penisilin. Karena kemampuannya untuk mengambil karakteristik bakteri lain ini, keberadaan bakteri yang resisten dapat membuat bakteri-bakteri lainnya ikut-ikutan jadi resisten T^T. Bakteri yang telah resisten terhadap salah satu antibiotik juga memiliki kemampuan untuk resisten pada antibiotik lainnya. Hal ini disebut resistensi silang (cross-resistance).

Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resistensi antibiotik?

  • Diagnosis yang tepat adalah langkah pertama untuk penggunaan antibiotik yang tepat. Periksalah ke dokter untuk menentukan apakah antibiotik benar-benar diperlukan atau tidak. Jangan memaksa dokter meresepkan antibiotik jika memang tidak perlu.
  • Disarankan untuk memakai antibiotik yang spesifik terhadap bakteri patogen tertentu dibandingkan antibiotik broad-spectrum. Dokter disarankan menswitch ke antibiotik yang sesuai setelah hasil uji sensitifitas antibiotik keluar.
  • Gunakan antibiotik sesuai saran dokter atau apoteker. Jangan berhenti di tengah jalan (kecuali jika mengalami efek samping obat yang serius) tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan dokter anda. Walaupun sudah merasa sembuh, teruskan penggunaan untuk memastikan semua bakteri mati.
  • Jangan berbagi antibiotik dengan orang lain karena bisa saja obatnya tidak cocok dan tidak sesuai dengan bakteri patogennya. Menggunakan obat yang tidak tepat akan memperparah masalah resistensi.
  • Jangan membuang antibiotik secara sembarangan. Misalnya dengan membuangnya ke tempat sampah, membuangnya di toilet atau selokan, karena akan mengkontaminasi tanah dan air dengan antibiotik yang pada akhirnya dapat memperbesar kemungkinan berkembangnya bakteri resisten di lingkungan. Bawalah ke tempat yang ada bagian pemusnahannya (insinerasi) atau pengolahan limbah.
  • Seringlah mencuci tangan dengan air dan sabun selama 20 detik, untuk membunuh kuman di tangan.
  • Lakukan vaksinasi untuk menurunkan risiko terkena infeksi.
  • Simpan dan siapkan makanan secara tepat. Ketika memasak, pastikan semua peralatan yang dipakai dalam keadaan bersih. Gunakan pembersih untuk permukaan yang terkena daging mentah. Selalu cuci buah dan sayuran sebelum dimakan.
  • Mendorong peternak untuk memakai antibiotik hanya jika diperlukan saja.
Tips lainnya dapat dibaca disini. Semoga semuanya menjadi lebih aware tentang masalah ini, termasuk saya. He he he.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment