Sunday, November 10, 2013

Indonesia, Negara Surga Barang Bekas Dunia

Belakangan ini saya suka bersusah hati jika teringat dengan Indonesia, negara tercinta yang meskipun konon memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi nomor 2 di dunia tetapi masih juga menyimpan sejuta permasalahan yang belum terselesaikan. Well, sebenarnya saya juga tidak yakin kalau hal ini bisa disebut sebagai suatu masalah. Mengingat jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda bisa saja malah dipandang sebagai berkah. Memang bukan topik yang kontroversial. Meskipun demikian, tetap saja saya "gatal" ingin mencurahkan pikiran. Hari ini saya ingin berbicara tentang barang bekas dari negara lain yang beredar di Indonesia.


Kereta api bekas. Sumber: news.viva.co.id
Adalah berita soal pembelian 180 kereta api bekas oleh PT KAI yang tiba- tiba menarik minatku. Jika kita melihat di sekitar kita, bisnis barang bekas sepertinya cukup menjanjikan. Lihat saja lapak- lapak di pasar dan toko-toko yang menjual baju bekas. Ada pula toko-toko yang menjual komputer dan barang elektronik bekas kepada masyarakat. Sebagian besar dari baju dan komputer bekas tersebut diimpor dari luar negeri. Tak sedikit pula perusahaan yang memang sengaja mengimpor barang seperti besi-besi bekas untuk diolah di dalam negeri. Banyak alat transportasi (bus, kereta api) yang dibeli pemerintah kita merupakan barang bekas dari negara maju. Bahkan katanya persenjataan militer dan alusista kita juga demikian. Tiba-tiba saja saya tersadar bahwa peredaran barang bekas dari negara lain memang masif di negeri ini.

Sebenarnya hal di atas bukanlah sesuatu yang salah. Perbedaan harga yang jauh antara kereta api bekas dari Jepang dan kereta api baru buatan PT INKA merupakan alasan utama PT KAI memutuskan membeli yang bekas. Hal ini tentunya dapat dimaklumi mengingat PT KAI merupakan BUMN yang wajib mencari untung untuk dapat bertahan. Apalagi gosipnya Kementerian Perhubungan tidak memberi subsidi transportasi umum yg memadai (bahkan ada selentingan PT KAI harus seperti pengemis yang meminta dana Public Service Obligation berkali-kali). Walaupun dapat dimengerti, tentu saja hal ini mengorbankan kesempatan kita untuk menjadi bangsa yang mandiri dan berdaya saing tinggi dalam memenuhi kebutuhan produksi kereta api. Gerakan 100% cinta produk Indonesia sepertinya hanya jargon. Kalah oleh logika ekonomi akibat harga barang produksi dalam negeri yg kalah dari barang bekas negara lain. Saya pernah mengikuti rapat tentang pembangunan industri bahan baku di Indonesia. Salah satu masalah besar yang muncul setelah pemerintah bersusah payah menginisiasi pembangunan pabriknya adalah kurangnya pesanan dari dalam negeri. Padahal sebenarnya demand bahan baku di Indonesia sangat besar. Tetapi rupanya pelaku usaha lebih memilih untuk mengimpor bahan baku dari luar negeri yang lebih murah dan mungkin memiliki dokumen mutu yang lebih lengkap. Pesanan merupakan hal yang sangat krusial bagi perusahaan. Bagaimana bisa berkembang bisa hanya memproduksi barang tanpa ada pembeli? Untuk bertahan saja sulit. Jika memang ingin sungguh-sungguh melepaskan diri dari ketergantungan terhadap impor luar negeri, diperlukan kebijakan dan sinergi yang baik antara pemerintah dan pelaku usaha, agar tidak amburadul seperti sekarang. Ah.. saya ini sebenarnya lagi ngomong apa sich.. Kok tiba-tiba tulisannya meloncat ke arah lain? Maaf.. maaf..

Back to the topic, sebenarnya bisnis barang bekas bukanlah sesuatu yang salah. Baju-baju bekas saya juga biasa dihibahkan ke handai taulan terdekat. Selain menghemat pengeluaran untuk membeli baju baru, juga sekalian ikut memberi dampak positif bagi lingkungan. "Reduce, reuse, recycle", bukankah demikian slogan yang sering didengung-dengungkan pecinta lingkungan? Masyarakat dengan kantong pas-pasan dapat memiliki barang elektronik idaman dengan membeli barang bekas. Demikian pula dengan pemerintah, yang mendapat keuntungan dari penghematan APBN. Penjualan barang bekas juga memberikan kontribusi bagi ekonomi dengan memberikan pekerjaan bagi banyak orang, mulai dari importir hingga pedagang. Lalu dimana letak masalahnya bagi saya? :D

Kontainer yang dicurigai merupakan selundupan limbah dari luar negeri. sumber: metrotvnews.com
Keberatan saya yang utama adalah adanya kecenderungan negara lain membuang barang bekasnya ke Indonesia, bahkan ada juga yang sengaja membuang limbahnya kemari. Ada hidden cost yang mungkin tidak disadari oleh bangsa kita. Bahwa kitalah yang menanggung kerusakan lingkungan jika tidak berhasil mengolah barang bekas yang sudah tidak dapat dipakai lagi. Bahwa negara kita otomatis juga menjadi tempat pembuangan sampah luar negeri tersebut. Tak heran negara lain begitu senang melego barang-barang bekasnya yang sudah tidak terpakai ke negara kita (dan negara berkembang lainnya. Negara maju biasanya tidak mau membeli barang seperti itu). Mereka tidak usah pusing-pusing memikirkan bagaimana nanti mengolah barang-barang tersebut ketika sudah menjadi sampah. Ketentuan tentang pengolahan sampah dan limbah di negara maju sangat ketat untuk memastikan hasil olahan sampah dan limbah tersebut tidak membahayakan manusia dan tidak mencemari lingkungan. Oleh karena itu biaya pengolahan sampah dan limbah di luar negeri itu sangatlah mahal. Jika dilihat dari dampak terhadap lingkungan, pembelian barang bekas ini menguntungkan mereka dan merugikan kita. Setiap kebijakan membutuhkan cost-benefit analysis, termasuk hal ini. Seberapa besar keuntungan yang dapat kita ambil dengan keputusan pembelian ini (dilihat dari masa pakai barang, kenaikan produktivitas dibandingkan membeli barang baru, dll) dan seberapa besar biaya yang ditimbulkannya (biaya perbaikan sebelum barang bekas tersebut dapat dipakai, pengolahan sampahnya, dll).

Kebijakan apapun pasti memiliki sisi negatif atau positif. Meskipun demikian, saya pribadi sich tidak rela jika Indonesia menjadi negara surga barang bekas dunia. So that's my opinion. How about you?

Reactions:

0 comments:

Post a Comment