Monday, March 17, 2014

Ketoconazole dan Risiko Kerusakan Hati

Ketoconazole merupakan obat yang banyak diresepkan oleh dokter untuk mengobati infeksi jamur pada kulit dan kuku. Meskipun demikian, penelitian menunjukkan bahwa Ketoconazole dapat menimbulkan efek yang berbahaya pada hati.

Hepatotoxicity
Tablet Ketoconazole dapat menyebabkan gangguan hati yang berakibat pada transplantasi hati dan kematian. Gangguan hati yang serius telah terjadi pada pasien yang mendapat Ketoconazole dosis tinggi, baik dalam jangka waktu yang pendek maupun panjang, meskipun pasien tersebut sebelumnya tidak memiliki faktor risiko penyakit hati. Gangguan hati karena obat ini kadang-kadang dapat reversible setelah pemakaian obat dihentikan, meskipun tidak selalu demikian.

Obat ini dapat menyebabkan gangguan hati pada kurang lebih 1 dari 500 pasien. Kasus transplantasi hati juga jauh lebih banyak terjadi pada penggunaan obat ini dibandingkan obat jamur lainnya.

Interaksi obat
Ketoconazole merupakan inhibitor kuat dari sitokrom P450 yang dapat berinteraksi dengan beberapa obat dan dapat menimbulkan konsekuensi fatal seperti aritmia.

Gangguan pada kelenjar adrenal
Tablet Ketoconazole dapat menyebabkan insufisiensi adrenal. Aksi Ketoconazole pada sitokrom P450 dapat menghambat produksi kortikosteroid dan aldosteron oleh kelenjar adrenal.

Hal-hal di atas menyebabkan FDA mempublikasikan peringatan baru dan pembatasan penggunaan Ketoconazole pada pertengahan tahun lalu.


Pembatasan tersebut adalah:

  1. Ketoconazole oral tidak boleh menjadi first-line therapy pada infeksi jamur. Obat ini hanya digunakan untuk infeksi jamur yang fatal dan mengancam jiwa, atau infeksi jamur yang tidak mempan terhadap obat lain.
  2. Obat ini dikontraindikasikan pada penderita gangguan hati akut maupun kronis
  3. Tambahan peringatan tentang insufisiensi adrenal.
Melihat hal tersebut, tenaga kesehatan diharapkan:
  1. Tidak menggunakan Ketoconazole oral pada infeksi jamur di kulit dan kuku.
  2.  Mengenali tanda-tanda gangguan hati pada pasien. Sebaiknya fungsi hati pasien diperiksa sebelum mendapatkan terapi Ketoconazole. Serum ALT disarankan dimonitor seminggu sekali selama durasi terapi.
  3. Tidak memberikan Ketoconazole pada pasien yang memiliki faktor risiko terkena gangguan hati.
  4. Tidak memberikan Ketoconazole dengan obat-obat hepatotoksik.
  5. Mereview semua obat yang diberikan bersamaan dengan Ketokonazol untuk melihat kemungkinan terjadinya interaksi obat.
  6. Melaporkan efek samping Ketoconazole ke Badan POM.
Pasien yang menggunakan Ketoconazole harap menghubungi tenaga kesehatan jika mengalami tanda dan gejala gangguan hati, seperti:
  • Kehilangan nafsu makan, mual, muntah dan rasa tidak enak pada perut.
  • Demam, kelelahan, tidak enak badan
  • Kulit dan bagian putih dari mata menjadi kuning (jaundice)
  • Warna urin menjadi lebih gelap atau warna tinja menjadi lebih pucat
  • Rasa sakit dan tidak enak pada bagian atas kanan abdomen.
 Semoga informasi ini bermanfaat ^^.


Reactions:

0 comments:

Post a Comment